Lompat ke konten
Monday, 14 September 2026
Liga Italia

Ruben Amorim Mulai Buktikan Diri di AC Milan, Awal Baru Setelah Gagal di Manchester United

Asciiking – Ruben Amorim kini telah menjalani empat pertandingan kompetitif sebagai manajer AC Milan, dan ia belum pernah merasakan kekalahan. AC Milan telah memenangkan dua pertandingan dan bermain imbang dua pertandingan dari laga pembuka Serie A mereka, yang membuat klub tersebut berada di posisi kelima klasemen pada saat artikel ini ditulis.

Kini, saat klub bersiap untuk memulai kampanye Liga Europa mereka, ketika mereka menjamu Benfica pekan ini, media Italia telah menentukan pendapat mereka tentang Amorim.

Comeback Melawan Lazio Jadi Ujian Penting

Pertandingan terbaru menghadirkan tantangan besar bagi Amorim. Milan harus menghadapi Lazio di Stadion Olimpico dan tertinggal 0-2 pada babak pertama.

Matteo Cancellieri membuka skor pada menit ke-10 sebelum Tijjani Noslin menggandakan keunggulan Lazio menjelang turun minum.

Dalam kondisi tersebut, Amorim melakukan tiga pergantian pemain pada jeda pertandingan. Keputusan tersebut kemudian memberikan perubahan besar terhadap permainan Milan.

Diego Moreira menjadi sosok utama dalam kebangkitan tersebut. Pemain asal Belgia itu mencetak dua gol hanya dalam rentang waktu dua menit.

Gol pertama lahir pada menit ke-65 melalui penyelesaian voli dari sudut sempit setelah menerima umpan Christian Pulisic. Tidak lama kemudian, Moreira kembali mencetak gol lewat tembakan kaki kiri dari luar kotak penalti setelah mendapatkan bola dari Adrien Rabiot.

Milan akhirnya membawa pulang satu poin dari Roma melalui skor 2-2.

Bagi Amorim, comeback tersebut memperlihatkan kemampuan timnya merespons situasi sulit. Namun, pertandingan itu juga mengungkap persoalan yang masih harus segera diperbaiki.

Media Italia Mulai Menyoroti Identitas Milan

Performa Milan pada awal musim mendapatkan perhatian dari sejumlah media Italia.

Corriere dello Sport menilai terdapat sisi positif dari permainan yang dikembangkan Amorim. Milan dinilai mampu menunjukkan dominasi dalam periode tertentu saat menghadapi Lazio.

Namun, Corriere della Sera melihat masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Salah satu persoalan utama adalah Amorim masih bereksperimen dengan susunan pemain dan pendekatan taktisnya.

Hal tersebut menjadi perhatian karena Milan tidak bisa terus mengandalkan perubahan di babak kedua untuk menyelamatkan pertandingan.

Gazzetta dello Sport bahkan mempertanyakan apakah Amorim merupakan pelatih yang sangat piawai dalam melakukan pergantian pemain atau justru masih belum menemukan kombinasi terbaik sejak awal pertandingan.

Penilaian tersebut cukup masuk akal jika melihat bagaimana Milan tertinggal dua gol dari Lazio sebelum bangkit setelah jeda.

Dengan jadwal yang semakin padat, Amorim membutuhkan starting XI yang lebih stabil agar Milan tidak selalu harus mengejar ketertinggalan.

Berbeda Jauh dari Awal Kariernya di Manchester United

Perkembangan Amorim di Milan menjadi semakin menarik jika dibandingkan dengan periode awalnya di Manchester United.

Amorim bergabung dengan United pada November 2024 dan meninggalkan klub tersebut pada Januari 2026. Ia hanya memiliki satu pramusim penuh untuk menerapkan sistem yang diinginkannya di Old Trafford.

Musim berikutnya, United memang memberikan dukungan melalui sejumlah perekrutan pemain. Namun, hasil yang diharapkan tidak pernah benar-benar muncul.

Amorim kemudian diberhentikan di tengah musim setelah performa tim gagal memenuhi ekspektasi.

Perbandingan dengan Milan memperlihatkan perbedaan yang cukup mencolok. Dalam empat pertandingan Serie A pertamanya bersama Milan, Amorim belum terkalahkan.

Sementara itu, empat pertandingan awalnya bersama Manchester United pada musim sebelumnya menghasilkan kekalahan dari Arsenal, hasil imbang melawan Fulham, kemenangan atas Burnley, kemudian kekalahan telak 0-3 dari Manchester City.

Artinya, Amorim kini memulai proyek barunya dengan stabilitas hasil yang jauh lebih baik.

Amorim Masih Membutuhkan Waktu

Meski demikian, hasil awal yang positif tidak membuat Amorim merasa pekerjaannya sudah selesai.

Pelatih asal Portugal itu menekankan pentingnya waktu untuk membangun fondasi yang dapat membuat Milan meraih kemenangan secara konsisten.

Menurut Amorim, proses tersebut membutuhkan kesabaran karena sebuah tim tidak bisa langsung memiliki struktur permainan sempurna hanya dalam beberapa pertandingan. Ia juga mencontohkan bagaimana klub seperti Arsenal, Juventus, dan Inter membutuhkan proses sebelum mampu membangun konsistensi.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Amorim tidak ingin menilai proyek Milan hanya berdasarkan hasil jangka pendek.

Namun, ia juga sadar bahwa kemenangan menjadi cara terbaik untuk mendapatkan ruang bekerja lebih lama.

“Untuk membeli waktu, kami harus menang,” menjadi inti pendekatan Amorim setelah Milan memulai musim tanpa kekalahan.

Tantangan Berikutnya Semakin Berat

Milan kini harus menjaga momentum sebelum memasuki rangkaian pertandingan yang lebih padat.

Rossoneri memiliki delapan poin dari empat pertandingan dan berada di posisi kelima Serie A. Lazio memimpin klasemen dengan 10 poin, sedangkan Cagliari berada di posisi keempat dengan sembilan poin.

Persaingan tersebut menunjukkan bahwa selisih antartim masih sangat tipis pada awal musim.

Amorim juga harus segera menemukan formula yang tepat di lini tengah. Pertandingan melawan Lazio menunjukkan bahwa perubahan pemain dapat mengubah jalannya laga, tetapi ketergantungan terhadap pemain pengganti tidak bisa menjadi solusi permanen.

Milan membutuhkan performa yang lebih konsisten sejak menit pertama.

Proyek Milan Mulai Menunjukkan Arah

Empat pertandingan memang terlalu sedikit untuk memberikan kesimpulan akhir mengenai era Amorim di San Siro.

Namun, dua kemenangan dan dua hasil imbang menjadi modal penting bagi sang pelatih untuk membangun kepercayaan diri. Terlebih, Milan mampu bangkit dari situasi sulit ketika menghadapi Lazio.

Di sisi lain, kritik dari media Italia menunjukkan bahwa masih terdapat pertanyaan mengenai identitas taktis dan komposisi pemain terbaik.

Amorim kini mempunyai tugas untuk mengubah potensi tersebut menjadi performa yang lebih konsisten.

Jika berhasil, periode di AC Milan dapat menjadi kesempatan bagi Amorim untuk mengembalikan reputasinya setelah masa sulit bersama Manchester United.

Asciiking menilai perkembangan Amorim di Milan layak diperhatikan karena proyek tersebut bukan hanya tentang hasil awal, tetapi juga pembuktian apakah sang pelatih mampu membangun identitas permainan yang bertahan dalam jangka panjang.

Artikel Terkait

Berita Terbaru

Lihat semua →