Asciiking – Mantan pelatih Milan, Fabio Capello, mengatakan Assane Diao lebih baik daripada Rafael Leao ‘dari segi teknik,’ dan meskipun dia tidak memahami ‘arahan’ Cesc Fabregas di lini tengah setelah pertandingan, dia mengakui Como ‘menyenangkan untuk ditonton.’ Como adalah satu-satunya klub Serie A yang berhasil meraih kemenangan di Liga Champions.

Diao Jadi Salah Satu Pemain yang Paling Disorot
Diao tidak hanya membantu Como meraih kemenangan besar, tetapi juga memperlihatkan mengapa dirinya bisa menjadi aset penting dalam proyek Cesc Fabregas. Pemain muda tersebut mencetak gol ketiga Como pada babak kedua. Gol itu semakin mempertegas kontribusinya dalam pertandingan yang sejak awal berada di bawah kendali tuan rumah.
Capello kemudian memberikan penilaian tinggi terhadap Diao. Menurutnya, pemain tersebut mengingatkan dirinya kepada Leao, tetapi memiliki kualitas teknis yang membuatnya cukup menarik untuk diperhatikan.
Penilaian itu tentu menjadi pujian besar mengingat Leao sudah lama dikenal sebagai salah satu pemain dengan kemampuan individu paling berbahaya di sepak bola Italia.
Namun, Capello tidak berhenti pada perbandingan tersebut. Ia justru melihat Diao sebagai pemain yang mempunyai karakteristik tersendiri dan berpotensi berkembang lebih jauh apabila mendapatkan lingkungan yang tepat.
Como Menjadi Panggung Ideal untuk Perkembangan Diao
Salah satu alasan Diao mampu berkembang adalah sistem permainan yang diterapkan Fabregas di Como.
Tim tersebut tidak sekadar mengandalkan satu atau dua pemain untuk menciptakan peluang. Setiap pemain dituntut aktif bergerak, membantu pressing, serta berani bermain agresif ketika menguasai bola.
Capello sendiri mengaku sangat menikmati permainan Como. Ia menilai tim Fabregas mempunyai pendekatan menyerang yang menarik karena para pemain tidak hanya menunggu lawan melakukan kesalahan.
Mereka aktif mengambil inisiatif, bekerja keras tanpa bola, dan mempertahankan intensitas permainan dari satu area ke area lainnya.
Situasi tersebut bisa menjadi keuntungan bagi Diao. Sebagai pemain yang mengandalkan kecepatan, kemampuan membawa bola, serta keberanian menghadapi pemain lawan, sistem Como memberikan ruang baginya untuk menunjukkan kualitas individu.
Debut Liga Champions kemudian menjadi panggung yang semakin besar. Jika mampu mempertahankan performa seperti ketika menghadapi Leipzig, Diao berpeluang menjadi salah satu pemain muda yang namanya semakin sering dibicarakan di Italia.
Capello Justru Mengkritik Kebiasaan Fabregas
Menariknya, pujian Capello terhadap Como tidak berarti ia sepenuhnya setuju dengan seluruh pendekatan Fabregas.
Ada satu kebiasaan sang pelatih yang justru membuat Capello merasa kurang nyaman. Setelah pertandingan, Fabregas beberapa kali mengumpulkan seluruh pemainnya dalam sebuah lingkaran di tengah lapangan untuk melakukan selebrasi bersama.
Bagi Fabregas, momen tersebut merupakan bentuk kebersamaan dan penghargaan terhadap kerja keras tim. Namun, Capello mempunyai pandangan berbeda.
Ia mempertanyakan alasan tindakan tersebut selalu dilakukan di tengah lapangan setelah pertandingan. Menurut Capello, pembicaraan atau ritual internal tim seharusnya lebih banyak dilakukan di ruang ganti.
Capello bahkan menganggap kebiasaan seperti itu terlalu terbuka dan lebih menyerupai pertunjukan di depan publik. Ia mengakui pandangannya mungkin terdengar kuno, tetapi tetap mempertahankan prinsip tersebut.
Fabregas Membawa Identitas Berbeda
Perbedaan pandangan tersebut justru memperlihatkan adanya perubahan dalam cara sepak bola modern membangun hubungan antara pelatih dan pemain. Fabregas merupakan pelatih muda yang membawa pendekatan berbeda setelah sebelumnya mendapatkan pengalaman dari sejumlah pelatih elite selama kariernya sebagai pemain. Di Como, ia tidak hanya berusaha membangun pola permainan, tetapi juga menciptakan identitas kolektif.
Hasilnya mulai terlihat. Como bukan lagi sekadar klub yang menikmati status sebagai pendatang baru di level tertinggi Italia. Mereka kini mampu bersaing di panggung Eropa dan bahkan memulai debut Liga Champions dengan kemenangan besar. Kesuksesan tersebut juga memberikan lingkungan yang ideal bagi pemain seperti Diao untuk berkembang.
Tantangan Berikutnya Menunggu
Kemenangan atas Leipzig menjadi awal yang sangat positif, tetapi perjalanan Como masih panjang. Mereka harus membagi energi antara Serie A dan Liga Champions, sesuatu yang membutuhkan kedalaman skuad serta konsistensi.
Fabregas sendiri sebelumnya menegaskan bahwa Como harus mampu tampil setiap tiga hari karena kompetisi domestik dan Eropa akan berjalan beriringan.
Bagi Diao, situasi tersebut menjadi kesempatan untuk membuktikan apakah performa impresifnya di Liga Champions bisa berlanjut.
Jika ia mampu menjaga konsistensi, bukan tidak mungkin namanya masuk dalam daftar pemain muda yang patut diperhatikan sepanjang musim 2026/2027. Penilaian tinggi dari Capello menjadi sinyal awal bahwa Diao memiliki sesuatu yang membuatnya berbeda.
Como telah mendapatkan kemenangan bersejarah. Kini, perhatian berikutnya akan tertuju pada apakah Diao mampu mengubah satu penampilan gemilang menjadi awal dari perkembangan karier yang jauh lebih besar.






