Lompat ke konten
Friday, 11 September 2026
Berita Bola

Inter Milan Kembali Tersandung di Eropa, Taktik Cristian Chivu Mulai Dipertanyakan

Asciiking – Performa domestik Inter yang mengesankan di bawah asuhan Cristian Chivu terus kontras tajam dengan kesulitan mereka di Eropa, yang ditandai dengan catatan buruk enam kekalahan dalam tujuh pertandingan Liga Champions terakhir setelah kekalahan 2-1 melawan Real Madrid di Santiago Bernabéu pada hari Selasa.

Sementara Simone Inzaghi membawa Nerazzurri ke dua final Eropa dalam tiga musim, hanya kalah sembilan dari 44 pertandingan, Chivu telah menderita enam kekalahan dalam 11 penampilan pertamanya di Liga Champions, dengan rata-rata kebobolan dua gol per pertandingan.

Dominasi Penguasaan Bola Tidak Berbuah Hasil

Pertandingan di Santiago Bernabéu menjadi gambaran jelas mengenai persoalan Inter saat menghadapi tim elite Eropa. Pasukan Chivu mampu mengendalikan penguasaan bola, tetapi kesulitan mengubah kontrol permainan menjadi keunggulan di papan skor.

Real Madrid justru memanfaatkan kelemahan Inter dengan sangat efektif. Kylian Mbappé membuka keunggulan pada menit ke-14 setelah kesalahan di lini belakang Inter. Tidak lama kemudian, Federico Valverde menggandakan keunggulan Madrid setelah kiper Josep Martínez melakukan kesalahan dalam situasi yang seharusnya dapat dikendalikan.

Inter kemudian memperkecil ketertinggalan melalui Carlos Augusto pada babak kedua. Setelah gol tersebut, tekanan kepada Madrid semakin besar. Namun, Thibaut Courtois tampil luar biasa dan menggagalkan sejumlah peluang penting Inter.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa Inter sebenarnya mampu memberikan perlawanan. Masalahnya, mereka harus membayar mahal setiap kesalahan kecil ketika bermain menghadapi klub seperti Real Madrid.

Rekor Eropa Chivu Mulai Menjadi Sorotan

Catatan Cristian Chivu di Liga Champions juga mulai menjadi perhatian. Pelatih asal Rumania tersebut kini telah mengalami enam kekalahan dalam 11 pertandingan pertamanya di kompetisi tersebut.

Inter juga kebobolan rata-rata dua gol dalam pertandingan Liga Champions selama periode kepemimpinan Chivu. Statistik tersebut menjadi semakin mencolok jika dibandingkan dengan era Simone Inzaghi.

Di bawah Inzaghi, Inter mampu mencapai dua final kompetisi Eropa dalam tiga musim dan hanya menelan sembilan kekalahan dari 44 pertandingan. Tim tersebut dikenal memiliki organisasi pertahanan yang kuat serta kemampuan mengontrol transisi ketika kehilangan bola.

Chivu membawa pendekatan yang berbeda. Inter bermain lebih agresif dan mencoba menguasai pertandingan melalui pendekatan yang lebih terbuka. Filosofi tersebut menghasilkan permainan menyerang yang menarik, tetapi pada saat bersamaan membuka ruang yang dapat dieksploitasi lawan.

Perbedaan Serie A dan Liga Champions Terlihat Jelas

Persoalan terbesar Inter bukan berarti sistem Chivu tidak efektif. Di kompetisi domestik, pendekatan tersebut justru mampu menghasilkan kemenangan penting. Sebelum bertemu Real Madrid, Inter menyapu bersih tiga pertandingan awal Serie A. Mereka kemudian menunjukkan mentalitas luar biasa ketika menghadapi Napoli.

Inter sempat tertinggal 0-2 dari Napoli, tetapi berhasil membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2 melalui gol Lautaro Martínez dan Marcus Thuram sebelum Martínez mencetak gol penentu pada menit ke-91.

Kemenangan tersebut menunjukkan kualitas individu dan daya juang Inter ketika menghadapi kompetisi domestik. Namun, level Liga Champions menghadirkan tuntutan berbeda.

Madrid tidak membutuhkan penguasaan bola dominan untuk menciptakan ancaman. Mereka cukup menunggu kesalahan, kemudian memanfaatkannya dengan pemain berkualitas tinggi. Perbedaan inilah yang harus segera dipahami Chivu jika Inter ingin bersaing hingga fase akhir kompetisi Eropa.

Masalah Utama Ada pada Keseimbangan

Inter menghadapi persoalan ketika kehilangan bola. Sistem permainan yang agresif membutuhkan koordinasi luar biasa antarlini agar lawan tidak mendapatkan ruang untuk melakukan serangan balik.

Menurut analisis yang dikutip dalam laporan terkait pertandingan tersebut, pendekatan menyerang Chivu dapat bekerja ketika Inter memiliki keunggulan kualitas individu di Serie A. Namun, ketika menghadapi tim elite Eropa, kelemahan struktural saat bertahan menjadi jauh lebih mudah terlihat.

Pada laga melawan Real Madrid, Inter mampu menguasai bola tetapi tetap memberikan sejumlah peluang bersih kepada tuan rumah. Josep Martínez bahkan harus melakukan beberapa penyelamatan penting untuk menjaga peluang timnya tetap hidup.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Inter bukan sekadar efektivitas serangan. Mereka membutuhkan keseimbangan antara agresivitas saat menguasai bola dan kedisiplinan ketika kehilangan penguasaan.

Inter Masih Memiliki Modal Besar

Meski catatan Eropa mengkhawatirkan, Inter belum berada dalam situasi yang tidak bisa diperbaiki. Kekalahan 1-2 dari Real Madrid hanya menjadi pertandingan pertama fase liga.

Skuad Chivu masih memiliki banyak pemain berpengalaman seperti Lautaro Martínez, Marcus Thuram, Hakan Çalhanoğlu, Nicolò Barella, Alessandro Bastoni, serta pemain baru yang dapat memberikan variasi.

Performa mereka di Serie A juga membuktikan bahwa kualitas tim tetap tinggi. Kemenangan dramatis atas Napoli menunjukkan bahwa Inter memiliki karakter kompetitif dan kemampuan bangkit ketika berada dalam tekanan.

Karena itu, pekerjaan Chivu bukan membangun kembali tim dari awal. Ia hanya perlu menemukan formula yang membuat pendekatan agresif Inter tetap efektif tanpa mengorbankan stabilitas pertahanan.

Kekalahan di Madrid Bisa Menjadi Pelajaran

Kekalahan dari Real Madrid justru dapat menjadi momentum evaluasi bagi Inter. Chivu kini mendapatkan gambaran nyata mengenai kesalahan yang harus diperbaiki sebelum menghadapi lawan-lawan elite lainnya.

Jika Inter terus memberikan ruang seperti yang terlihat di Madrid, perjalanan mereka di Liga Champions akan kembali sulit. Namun, apabila Chivu mampu memperbaiki koordinasi pertahanan dan transisi negatif, Nerazzurri masih memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa mereka bukan hanya penguasa Italia.

Tekanan terbesar kini bukan pada kemampuan Inter mencetak gol, melainkan bagaimana mereka mengurangi kesalahan yang dapat mengubah pertandingan dalam hitungan menit.

Kekalahan 1-2 dari Real Madrid memang memperpanjang tren negatif Inter di Liga Champions. Tetapi bagi Chivu, hasil tersebut juga menjadi ujian penting untuk menentukan apakah gaya permainan yang sukses di Serie A bisa berkembang menjadi senjata yang efektif di panggung Eropa.

Jika keseimbangan itu berhasil ditemukan, Inter masih punya kesempatan mengubah catatan buruk tersebut menjadi awal dari kebangkitan di Liga Champions 2026/2027.

Artikel Terkait

Berita Terbaru

Lihat semua →