Asciiking – Ruben Amorim menilai AC Milan kehilangan kesempatan bersaing setelah bermain 10 orang dalam kekalahan 0-3 dari Bournemouth di Vitality Stadium, Jumat (23/10/2026) dini hari WIB. Amorim menyoroti 2 kesalahan saat situasi sepak pojok, termasuk handball Koni De Winter dan kartu merah Mike Maignan, sebagai penyebab timnya kesulitan mengimbangi tuan rumah.
Bournemouth meraih kemenangan melalui penalti Justin Kluivert, eksekusi Marcus Tavernier, serta tendangan bebas Amine Adli menjelang akhir pertandingan. Hasil pertandingan Bournemouth vs AC Milan ini menambah pekerjaan rumah bagi Amorim, terutama karena Rossoneri juga kalah 0-2 dari Benfica pada laga pembuka fase liga Liga Europa.

Ruben Amorim Sebut AC Milan Kehilangan Kesempatan Bersaing
Dua insiden pada babak pertama menjadi titik balik pertandingan Bournemouth melawan AC Milan. Handball De Winter di dalam kotak penalti memberikan kesempatan kepada tuan rumah untuk membuka keunggulan melalui tendangan penalti Justin Kluivert.
Situasi Milan semakin sulit setelah Maignan menerima kartu merah akibat insiden dengan Tyler Adams ketika Bournemouth bersiap menghadapi sepak pojok. Keputusan tersebut membuat Rossoneri kehilangan penjaga gawang utama sekaligus harus melanjutkan pertandingan dengan jumlah pemain yang lebih sedikit.
Bournemouth kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk memperbesar keunggulan. Marcus Tavernier mencetak gol melalui penalti kedua, sebelum Amine Adli memastikan kemenangan tuan rumah lewat tendangan bebas pada penghujung pertandingan.
Amorim menilai dua insiden tersebut membuat Milan tidak memiliki cukup kesempatan untuk kembali bersaing.
“Penalti dari situasi sepak pojok dan kartu merah itu mengubah segalanya, jadi ini bukan lagi sebuah pertandingan. Ini bukan pertandingan,” ujar Amorim, dikutip dari Football Italia.
Ia juga menjelaskan bahwa Milan belum sempat memulihkan keadaan setelah kebobolan melalui penalti pertama. Upaya untuk memberikan tekanan pada fase akhir pertandingan tidak cukup untuk mengubah situasi.
“Kami bahkan belum sempat bangkit dari penalti pertama. Kami mencoba untuk menekan di akhir laga, tetapi gol ketiga membuat situasi menjadi jauh lebih sulit bagi kami,” katanya.
Bagi Amorim, hasil tersebut menunjukkan pentingnya menjaga konsentrasi dalam situasi bola mati. Ia menegaskan bahwa pemain Milan tidak boleh mengulangi kesalahan yang membuat tim kehilangan kendali atas pertandingan.
Amorim Soroti Kesalahan dalam Situasi Sepak Pojok
Amorim kembali menekankan bahwa Milan seharusnya mampu menghindari insiden yang berujung penalti dan kartu merah. Menurutnya, kedua kejadian tersebut membuat pertandingan berjalan sangat berbeda dari rencana awal.
“Tidak ada pertandingan. Ini bukan soal ritme atau perbandingan dengan laga melawan Salzburg; memang tidak ada pertandingan. Ini tim yang berbeda,” ujar Amorim.
Ia kemudian mengingatkan para pemain agar lebih berhati-hati ketika menghadapi situasi sepak pojok.
“Anda tidak boleh membiarkan penalti terjadi dalam situasi sepak pojok seperti itu, dan Anda tidak boleh sampai mendapat kartu merah dalam situasi tersebut,” lanjutnya.
Komentar itu memperlihatkan bahwa Amorim lebih menyoroti kesalahan mendasar daripada sekadar membandingkan kualitas permainan Milan dengan lawan-lawannya. Dalam pertandingan dengan intensitas tinggi, keputusan yang keliru di kotak penalti dapat memberikan keuntungan besar kepada lawan.
Setelah tertinggal dua gol dan bermain dengan 10 pemain, Milan harus mengubah pendekatan permainan. Kondisi tersebut membuat tugas para pemain semakin berat, terutama ketika mereka berusaha menjaga pertahanan sekaligus mencari peluang untuk memperkecil ketertinggalan.
Ruben Amorim Jelaskan Keputusan Taktik Setelah Maignan Diusir
Kartu merah Maignan memaksa Amorim menyesuaikan strategi AC Milan. Ia memutuskan mempertahankan sistem tiga bek yang dapat berubah menjadi lima bek ketika tim bertahan.
Keputusan tersebut diambil karena para pemain sudah memahami skema tersebut. Amorim ingin menjaga organisasi pertahanan dan mengurangi risiko ketika Milan harus menghadapi tekanan Bournemouth dengan jumlah pemain yang tidak seimbang.
“Pertama-tama, mereka memahami cara bertahan seperti ini. Seperti yang saya katakan, mereka mencoba untuk menekan di menit-menit akhir dan tidak mengambil terlalu banyak risiko di pertengahan laga,” jelasnya.
Amorim juga menjelaskan bahwa pergantian pemain dilakukan untuk menempatkan para pemain pada posisi yang lebih nyaman sekaligus menyesuaikan kebutuhan tim setelah kehilangan penjaga gawang.
Namun, bermain dengan 10 pemain membuat Milan harus mengeluarkan energi lebih besar untuk menutup ruang dan menjaga struktur pertahanan. Kondisi tersebut menyulitkan Rossoneri dalam membangun serangan secara konsisten.
“Benar, kami tidak bisa melakukan itu. Kami harus tetap memiliki 11 pemain di lapangan. Ada pemain-pemain yang lebih berpengalaman, tetapi sekarang kami perlu memulihkan diri dan bersiap untuk pertandingan berikutnya,” kata Amorim.
Ia mengakui bahwa kekalahan tersebut menjadi pengalaman negatif bagi timnya dalam berbagai aspek.
AC Milan Segera Alihkan Fokus ke Udinese
Setelah pertandingan melawan Bournemouth, Amorim harus segera mengalihkan perhatian ke laga berikutnya menghadapi Udinese. Waktu pemulihan yang terbatas membuat Milan perlu mengevaluasi kondisi pemain sekaligus memperbaiki kesalahan yang terjadi di Inggris.
Amorim mengaku belum sempat berbicara dengan Maignan mengenai kartu merah yang diterimanya. Ia ingin kembali ke Milan terlebih dahulu sebelum membahas insiden tersebut bersama sang penjaga gawang.
“Tidak, saya tidak punya waktu. Sekarang saya harus pergi ke Milan untuk bersiap menghadapi pertandingan berikutnya melawan Udinese. Kami akan membicarakannya saat kembali nanti,” ungkapnya.
Pertandingan melawan Udinese menjadi kesempatan bagi Milan untuk merespons hasil buruk tersebut. Sebelumnya, Rossoneri juga hampir kehilangan keunggulan tiga gol ketika menghadapi Atalanta di San Siro, sebelum akhirnya menang dengan skor 3-2.
Rangkaian pertandingan itu menunjukkan bahwa Milan masih perlu meningkatkan konsistensi, terutama dalam menjaga keunggulan dan mengantisipasi tekanan lawan.
Amorim Minta Milan Belajar dari Kekalahan
Amorim juga berbicara mengenai perjalanan 100 hari pertamanya bersama AC Milan. Ia memahami besarnya ekspektasi yang melekat pada klub dengan sejarah panjang tersebut, tetapi meminta semua pihak tetap realistis dalam menilai perkembangan tim.
Pelatih asal Portugal itu menyinggung pernyataan Fabio Capello mengenai sejarah Milan dan menegaskan bahwa tim saat ini harus menghadapi tantangannya sendiri.
“Ini adalah bagian dari perjalanan. Jika melihat sejarah Milan, kita berada di titik yang berbeda. Fabio Capello berbicara mengenai sejarah Milan, dan saya memahaminya, tetapi kita harus realistis,” ujarnya.
Amorim tetap menghargai usaha para pemain yang berjuang dalam kondisi sulit. Ia berharap kekalahan dari Bournemouth menjadi pelajaran untuk memperbaiki koordinasi, disiplin, dan pengambilan keputusan.
“Saya menghargai cara kami berjuang; kami mencoba melakukan sesuatu dan saling membantu. Jadi, kita harus belajar dari momen-momen seperti ini dan menyadari bahwa inilah sepak bola,” tutupnya.
Kini, AC Milan harus segera bangkit. Evaluasi terhadap kesalahan bola mati, kedisiplinan pemain, dan efektivitas taktik menjadi pekerjaan penting bagi Amorim sebelum Rossoneri kembali bertanding.






